Mahasiswa STISIP Yupentek Tangerang diminta untuk terus
menjaga dan mengamalkan Pancasila sebagai bagian dari upaya menghadapi proxy
war. Proxy war merupakan perang dengan menggunakan pihak ketiga sebagai
pengganti perang secara langsung untuk menghindari resiko kehancuran fatal.
Demikian diungkapkan Kolonel Kav. M Zamroni, Danrem 052/WKR, saat menjadi
pembicara dalam kuliah umum, di kampus STISIP Yupentek, Selasa (7/4) malam.
“Tantangan kaum muda termasuk mahasiswa STISIP adalah proxy war. Yakni perang yang
mengunakan pihak ketiga yang mengancam kedaulatan NKRI,” ujar Zamroni.
Dalam makalahnya, M.Zamroni menjelaskan, untuk mewujudkan
Indonesia Emas 2045 mendatang, peran kaum muda termasuk mahasiswa sangat
signifikan. Terutama dalam menjaga kedaulatan NKRI. “Untuk itu mahasiswa harus
paham atas gejala di sekitarnya, terutama gejala yang berkembang secara ekonomi
dan politik secara lokal, nasional dan internasional. “Kecenderungan perang itu
terjadi karena perebutan sumber energi atau perang energi. Maka dari itu,
mahasiswa harus bisa menjaganya, caranya yakni dengan Pancasila.
M.Zamroni mencontohkan dampak dari proxy war, yakni lepasnya
Timor Timur dari NKRI, maraknya tawuran pelajar dan tawuran mahasiswa, demo
anarkis yang merusak fasilitas negara. “Ideologi Pancasila itu sangat efektif
dalam menjaga mahasiswa agar tidak mudah terprovokasi oleh proxy war,” tegas
Zamroni seraya berpesan kepada seluruh mahasiswa untuk belajar lebih giat dan
tekun untuk melanjutkan cita-cita para pahlawan dengan mengisi pembangunan
dengan ilmu yang didapatnya di kampus. Dan sedikit bergurau beliau mengatakan
Mahasiswa SITISIP Yuppentek dengan Almamater yang dia ibaratkan buah manggis yg
memiliki merah kulitnya, putih isinya, jadi Mahasiswa harus semangat
melambangkan warna merahnya, memiliki hati dan jiwa dalam dirinya yang bersih
putih seperti isi buah mangis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar